ACEH TENGAH — Semangat masyarakat Desa Merandeh Paya, Kecamatan Rusip Antara, Kabupaten Aceh Tengah, dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H/2026 M tidak surut meski hingga kini akses jembatan penghubung desa masih terputus akibat bencana hidrometeorologi yang terjadi pada November 2025.
Pada Selasa (25/8/2026), masyarakat setempat bergotong royong memikul hidangan, perlengkapan, serta berbagai kebutuhan kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan melewati aliran sungai akibat belum tersambungnya jembatan penghubung menuju Desa Merandeh Paya.
Kondisi tersebut menjadi gambaran nyata bagaimana masyarakat tetap menjaga tradisi keagamaan dan kebersamaan di tengah keterbatasan akses. Warga secara sukarela saling membantu agar seluruh kebutuhan pelaksanaan Maulid Nabi dapat sampai ke lokasi kegiatan.
Reje Merandeh Paya, Eka, mengatakan masyarakat tetap antusias melaksanakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW meskipun kondisi jembatan masih menjadi kendala.
Menurutnya, masyarakat memilih bergotong royong agar kegiatan yang telah dipersiapkan dapat tetap terlaksana dengan baik.
“Walaupun jembatan masih terputus, masyarakat tetap antusias dan bersama-sama bergotong royong agar kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW dapat terlaksana,” ujar Eka.
Sementara itu, tokoh masyarakat Desa Merandeh Paya, T. Abdullah Syatri, menyampaikan harapan kepada Bupati Aceh Tengah dan pihak terkait agar persoalan jembatan penghubung tersebut segera mendapat perhatian dan penanganan.
Ia menilai keberadaan jembatan sangat penting bagi masyarakat karena menjadi salah satu akses utama dalam mendukung aktivitas sehari-hari, termasuk kegiatan sosial, ekonomi, pendidikan, maupun keagamaan.
“Kami berharap kepada Bapak Bupati Aceh Tengah dan pihak terkait agar jembatan penghubung di Desa Merandeh Paya ini dapat segera diperbaiki, sehingga akses masyarakat kembali normal,” kata T. Abdullah Syatri.
Ia menambahkan, kondisi jembatan yang masih terputus membuat masyarakat harus menempuh cara yang tidak mudah ketika membawa berbagai kebutuhan.
“Untuk mengadakan kegiatan Maulid ini, warga harus bergotong royong melewati aliran sungai untuk mengangkat kebutuhan dan perlengkapan kegiatan Maulid Nabi. Kami berharap ada upaya nyata terkait kondisi jembatan ini,” ujarnya.
Menurut T. Abdullah Syatri, gotong royong yang dilakukan masyarakat merupakan bentuk kebersamaan sekaligus bukti bahwa warga tetap berupaya menjalankan kegiatan keagamaan meskipun menghadapi kendala infrastruktur.
Masyarakat berharap pemerintah daerah bersama pihak terkait dapat segera mengambil langkah penanganan terhadap jembatan tersebut. Selain untuk memudahkan pelaksanaan kegiatan masyarakat, perbaikan jembatan dinilai penting agar mobilitas warga Desa Merandeh Paya dapat kembali berjalan normal.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H/2026 M yang berlangsung pada Selasa, 25 Agustus 2026, akhirnya tetap dilaksanakan dengan semangat kebersamaan masyarakat.
Di tengah keterbatasan infrastruktur, warga Merandeh Paya menunjukkan bahwa semangat gotong royong tetap menjadi kekuatan utama masyarakat dalam menjaga kegiatan keagamaan dan kehidupan sosial di desa.






