Takengon, 9 Juni 2026 – Ironi pahit sedang menampar wajah Aceh Tengah. Kota yang dipeluk Gunung, disuapi Danau Tawar, justru mencekik rakyatnya sendiri dengan krisis air bersih.
Presiden Mahasiswa Universitas Gajah Putih, Asraf bersama rekan nya berkomunikasi langsung dengan masyarakat . Hasilnya? Miris. Banyak wilayah di Takengon kering kerontang, keran kosong melompong. Dan ada yang mengalir pun keruh, coklat, tidak layak konsumsi. Ini air atau lumpur?
“Mustahil Aceh Tengah kekurangan air! Sumbernya melimpah dari Gunung dan Danau Tawar. Tapi manajemen PDAM Tirta Tawar bobrok,dan gagal total!” tegas Asraf dengan nada geram.
Bobroknya manajemen bukan isapan jempol. Asraf membongkar praktik zolim:
1. Pembayaran dobel untuk pemakaian air yang sama. Rakyat bayar, tapi ditagih lagi.
2. Pembengkakan biaya pengecekan. Yang harusnya rutin tiap bulan, kini ditumpuk dan dipaksa bayar lunas dalam 1 bulan. Bulan-bulan sebelumnya sudah dibayar, tapi tetap ditagih!
“Ini bukan pelayanan. Ini pemerasan berkedok air bersih!” sentak Asraf.
Asraf mengingatkan janji Bupati Aceh Tengah saat pelantikan Direktur PDAM Tirta Tawar: _“Apabila dalam 6 bulan tidak ada perubahan, siap saya ganti!”_
6 bulan sudah lewat. Janji itu kini diuji. Rakyat menunggu ketegasan, bukan alasan.
PRESMA UGP MENUNTUT:
1. Bupati Aceh Tengah segera evaluasi total & COPOT Direktur PDAM Tirta Tawar yang gagal mensejahterakan rakyat.
2. Audit investigasi aliran dana dan tagihan liar PDAM Tirta Tawar.
3. Solusi konkret & cepat agar air bersih benar-benar mengalir ke rumah warga, bukan janji kosong.
“Kami menunggu ketegasan pimpinan. Komitmen Bupati diuji hari ini. Jika dalam waktu dekat tidak ada penyelesaian yang jelas, Presma UGP bersama rakyat Aceh Tengah siap turun ke jalan. Aksi adalah jalan terakhir saat suara nurani diabaikan!” tutup Asraf.
Hidup Mahasiswa! Hidup Rakyat Aceh Tengah. ***






