Seorang Pemimpin Harus Bisa Memperbaiki Bahasa, Baru Bisa Memperbaiki Daerah

- Editor

Sabtu, 28 Juni 2025 - 10:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Aceh Tenggara — pilargayonews.com | Dalam beberapa hari terakhir, jagat media sosial, khususnya Facebook, diramaikan dengan pernyataan bernada kasar dan hinaan yang dilontarkan oleh seorang pimpinan daerah kepada jurnalis dan aktivis. Pernyataan seperti “pekak kadang ko” (yang dalam tafsir bebas berarti: bodoh mungkin kau) menjadi sorotan publik karena diucapkan langsung oleh seorang kepala daerah.

Ungkapan yang tidak etis ini menimbulkan gelombang reaksi dari masyarakat sipil, aktivis, hingga kalangan jurnalis. Bagi kami, ini bukan sekadar persoalan komunikasi personal, tapi cerminan dari krisis etika dan kepemimpinan.

Sebagai pemimpin, seseorang seharusnya menjadi panutan, bukan malah memberi contoh buruk dalam berbahasa. Bahasa mencerminkan karakter, dan karakter adalah fondasi utama dalam membangun sebuah daerah. Ketika bahasa seorang pemimpin sudah kotor dan arogan, bagaimana ia bisa dipercaya untuk memperbaiki dan memajukan masyarakat yang dipimpinnya?

Saat ini, nilai-nilai luhur seperti sopan santun, adab berbicara, dan penghargaan terhadap sesama seolah mulai terkikis. Kita mulai terbiasa mendengar pejabat berucap kasar, merendahkan pihak lain, dan merasa superior karena posisinya.

Ketua LSM Kaliber Aceh, Zoel Kenedi, menyayangkan sikap tersebut. Menurutnya, jika seorang bupati atau pimpinan tidak mampu menjaga tutur katanya, maka ia juga tidak akan mampu menjaga martabat daerah yang dipimpinnya. Pemimpin bukan sekadar jabatan struktural, tapi simbol moral masyarakat.

“Kalau bahasanya saja rusak, bagaimana bisa memperbaiki daerah? Percuma Aceh Tenggara punya kekayaan alam dan keanekaragaman hayati kalau tidak ditopang oleh sumber daya manusia yang berakhlak dan berintegritas,” ujar Zoel.

Di era digital seperti sekarang, setiap ucapan pemimpin bisa terekam, disebarkan, dan menjadi konsumsi publik. Tidak ada ruang untuk sembunyi. Media sosial menjadi cermin dari siapa kita sebenarnya. Dan ketika pemimpin berbicara layaknya preman pasar, maka citra pemerintahannya pun akan tercoreng.

Baca Juga:  Tahap II, Bupati Haili Yoga : LPG 3 Kg Tetap Didistribusikan, Masyarakat Diminta Tertib

Rakyat butuh pemimpin yang bijaksana, bukan yang mudah tersulut emosi dan membalas kritik dengan caci maki. Rakyat perlu sosok yang merangkul, bukan yang membentak dan menghina. Kepemimpinan itu bukan tentang kekuasaan semata, tapi tanggung jawab moral untuk menjaga martabat dan nilai-nilai daerah.

 

“Jangan merasa diri hebat hanya karena duduk di kursi kekuasaan. Kursi itu milik rakyat. Retak tanganmu menjadi pimpinan bukan berarti kau bebas bersikap semena-mena,” tegas Zoel Kenedi.

Menurutnya, seorang pemimpin harus sadar bahwa jabatan itu amanah, bukan alat untuk merendahkan orang lain. Jika seorang jurnalis dan aktivis yang menjalankan tugasnya untuk mengawasi pemerintah justru dihina, maka kita harus bertanya: ada apa yang ditutup-tutupi?

Aceh Tenggara dikenal sebagai tanah metuwah—tanah yang kaya nilai budaya, adat, dan kearifan lokal. Tapi nilai-nilai ini akan perlahan hilang jika masyarakat dan terutama para pemimpinnya tidak lagi menjunjung tinggi budi pekerti, sopan santun, dan etika.

LSM Kaliber mengingatkan, jika perilaku pimpinan daerah terus dibiarkan tanpa koreksi, maka bukan tidak mungkin generasi muda akan tumbuh dalam budaya kasar, arogan, dan apatis terhadap nilai-nilai luhur. Dan itu menjadi awal dari kemunduran sosial dan moral daerah.

Pemimpin yang baik bukan hanya dilihat dari pembangunan fisik atau program kerja, tetapi dari sikap, tutur kata, dan kemampuannya menjaga martabat semua pihak. Jika seorang pemimpin gagal menjaga bahasanya, maka sesungguhnya ia sedang merusak fondasi kepercayaan masyarakat.

Oleh: Ketua LSM Kaliber Aceh, Zoel Kenedi

 

Berita Terkait

‎Bupati Aceh Tengah Pastikan Jalan Alternatif Pondok Balik Segera Diperbaiki
Jembatan Garuda: jadi penghubung dua kec.Darul Hasanah dan Badar Bukti Nyata Pengabdian TNI Kodim 0108 Aceh tenggara untuk Rakyat
Catat Tanggalnya, Pasar Murah Digelar 4 Maret 2026 di Pegasing, Harga Paket Sembako Rp. 162 Ribu
Hulu Air Dialihkan Sementara, Solusi Cepat Kendalikan Perluasan Sinkhole Pondok Balik Ketol
Safari Ramadan 1447 H, Kapolsek Lut Tawar Sampaikan Pesan Kamtibmas di Masjid Al Mukmin Pedemun
Dapur SPPG Bebesen Simpang IV, Didistribusikan ke 27 Sekolah di Aceh Tengah
Dapur SPPG Bebesen Simpang IV, Didistribusikan ke 27 Sekolah di Aceh Tengah
Dapur SPPG Bebesen Simpang IV, Didistribusikan ke 27 Sekolah di Aceh Tengah
Berita ini 373 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 3 Maret 2026 - 17:05 WIB

Aksi Formasket di DPRK Berjalan Aman dan Kondusif, Polres Aceh Tengah Kedepankan Pengamanan Humanis

Selasa, 3 Maret 2026 - 13:59 WIB

‎Bupati Aceh Tengah Pastikan Jalan Alternatif Pondok Balik Segera Diperbaiki

Selasa, 3 Maret 2026 - 04:16 WIB

Catat Tanggalnya, Pasar Murah Digelar 4 Maret 2026 di Pegasing, Harga Paket Sembako Rp. 162 Ribu

Selasa, 3 Maret 2026 - 02:34 WIB

‎Babinsa Koramil 04/Bintang Amankan Pekerjaan Alat Berat Bersihkan Longsor di Jalan Provinsi Takengon–Bintang

Senin, 2 Maret 2026 - 09:28 WIB

Hulu Air Dialihkan Sementara, Solusi Cepat Kendalikan Perluasan Sinkhole Pondok Balik Ketol

Senin, 2 Maret 2026 - 08:56 WIB

Safari Ramadan 1447 H, Kapolsek Lut Tawar Sampaikan Pesan Kamtibmas di Masjid Al Mukmin Pedemun

Senin, 2 Maret 2026 - 08:51 WIB

Dapur SPPG Bebesen Simpang IV, Didistribusikan ke 27 Sekolah di Aceh Tengah

Senin, 2 Maret 2026 - 08:39 WIB

Dapur SPPG Bebesen Simpang IV, Didistribusikan ke 27 Sekolah di Aceh Tengah

Berita Terbaru