Takengon – Komoditas hortikultura dari dataran tinggi Gayo, Kabupaten Aceh Tengah, dinilai memiliki kualitas yang mampu bersaing dengan produk unggulan dari daerah lain di Indonesia, termasuk kentang asal Dieng.
Hal ini sejalan dengan meningkatnya penyerapan pasar terhadap komoditas asal Aceh Tengah dan Bener Meriah dalam satu semester terakhir.
CEO PT Rumah Tani Nusantara, Bahtiar, menyatakan kualitas kentang Gayo kini berada pada level yang sebanding dengan sentra penghasil kentang utama di Indonesia.
Sebelumnya, kentang asal Sumatra kerap dikategorikan dalam kualitas Grade B di bawah kentang Dieng, Jawa Tengah, yang dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kentang terbesar dan terbaik di Indonesia.
“Setelah dilakukan upaya re-branding dan perbaikan standar pengemasan (packing), produk kita kini bisa bersaing di Pulau Jawa. Hal ini memberikan nilai tambah yang signifikan bagi petani lokal,” ujar
Bahtiar dalam kegiatan pelepasan komoditas di Gudang Rumah Tani Nusantara, Pendere Saril, Kecamatan Bebesen, Aceh Tengah, Rabu (6/5/2026).
Berkat jaringan kerja sama dengan Rumah Tani Nusantara, pengiriman komoditas hasil pertanian masyarakat Aceh Tengah dan Bener Meriah menunjukkan capaian positif sejak November 2025 hingga Mei 2026.
Untuk komoditas kentang saja, tercatat sebanyak 400 ton telah dikirim dan dipasarkan oleh perusahaan tersebut. Secara kumulatif, total komoditas pertanian yang diserap dari wilayah Aceh Tengah dan Bener Meriah mencapai 1.200 ton dalam periode Desember 2025 hingga Mei 2026.
Pada kegiatan yang berlangsung Rabu sore itu, Rumah Tani Nusantara kembali melepas pengiriman sebanyak 45 ton logistik yang terdiri dari 40 ton alpukat dan 10 ton kentang menuju pasar luar daerah.
Selain kentang, Bahtiar menyebut cabai asal Takengon juga memiliki kualitas unggul yang mampu bersaing di pasar Pulau Jawa maupun tingkat nasional.
Menurutnya, masuknya pasokan cabai dari Aceh Tengah dan Bener Meriah turut membantu menjaga stabilitas harga cabai di sejumlah daerah, termasuk di ibu kota, pada momentum Natal lalu.
Koordinator Rumah Tani Nusantara, Helmia, mengatakan pihaknya terus berupaya memperluas jaringan pemasaran hasil pertanian masyarakat agar komoditas lokal memiliki nilai jual yang lebih tinggi dan pasar yang lebih stabil.
“Kami ingin hasil pertanian petani Gayo semakin dikenal luas dan mampu menembus pasar nasional secara berkelanjutan. Dengan kualitas yang dimiliki saat ini, kami optimistis komoditas dari Aceh Tengah dan Bener Meriah dapat terus berkembang,” ujar Helmia.
Rumah Tani Nusantara berharap volume serapan hasil pertanian dari petani lokal dapat terus meningkat. Hal ini menjadi komitmen penting mengingat distribusi komoditas sempat mengalami kendala pascabencana beberapa waktu lalu.
Pada 2026, peningkatan serapan hasil pertanian diharapkan menjadi salah satu katalisator dalam mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat di wilayah dataran tinggi Gayo.






