Kutacane | Pilargayonews.com – Semarak Festival Seni yang digelar di Stadion H. Syahadat, Kutacane, Kabupaten Aceh Tenggara, berubah menjadi malam petaka. Seorang pemuda asal Desa Buah Pala tewas bersimbah darah di tengah keramaian saat acara berlangsung.
Peristiwa tragis ini terjadi dalam rangkaian acara hiburan yang menghadirkan Anggota DPR RI Muslim Ayub sebagai tokoh yang memprakarsai kegiatan tersebut. Alih-alih membawa keceriaan, festival yang diisi dengan hiburan musik dan joget-joget justru berakhir dengan kehilangan nyawa seorang anak muda.
Ketua LSM Kaliber Aceh, Zoel Kenedi, menilai tragedi ini bukan sekadar insiden biasa, melainkan sebuah bentuk kelalaian terhadap aturan dan fatwa ulama yang sudah jelas melarang konser bercampur baur antara laki-laki dan perempuan hingga larut malam.
“MPU Aceh sudah mengeluarkan Fatwa No. 12 Tahun 2013 yang melarang konser dan pagelaran seni budaya yang bercampur laki-laki dan perempuan. Syariat ditinggalkan, hiburan dipaksakan. Akhirnya jatuh korban,” tegas Zoel Kenedi.
Ia menambahkan, hiburan memang tidak dilarang, tetapi harus memperhatikan syariat Islam dan keselamatan masyarakat. Jika pemerintah daerah dan para pejabat justru ikut larut dalam hiburan tanpa menghiraukan marwah Aceh, maka nyawa rakyat akan terus terancam.
“Wakil rakyat semestinya membawa maslahat, bukan mudharat. Pemerintah daerah pun harus tegas, jangan mengorbankan marwah Aceh demi popularitas sesaat. Hiburan boleh, tapi jangan sampai ada nyawa melayang,” ujarnya.
Hingga kini, pihak berwenang belum memberikan keterangan resmi terkait kronologi dan penyebab tewasnya pemuda tersebut. Sementara itu, duka mendalam menyelimuti keluarga korban di Desa Buah Pala.
Oleh : Zoel Kennedy ketua Kaliber Aceh