Takengon – pilargayonews.com |Bencana tidak memadamkan semangat hidup masyarakat Kampung Bintang Pepara, Kecamatan Ketol. Meski telah lebih dari sebulan mengungsi di SMP Negeri 32 Takengon, para pengungsi memilih tidak berpangku tangan dan tidak hanya bergantung pada bantuan, melainkan berjuang mencari nafkah sebagai buruh harian demi menyambung hidup dan memenuhi kebutuhan keluarga.
Salah satunya adalah Ibu Sri Murni, pengungsi asal Bintang Pepara. Dengan mata berkaca-kaca, ia mengenang hari kejadian bencana yang memaksa dirinya dan keluarga meninggalkan rumah.
“Kalau teringat itu masih nangis, Pak. Sedih kali. Nggak bisa diceritakan lagi”, ucapnya dengan lirih saat di wawancari langsung dari tim Bagian Prokopim, Sabtu (03/01/2026).
Sudah lebih dari sebulan Ibu Sri Murni bersama puluhan keluarga lainnya bertahan di pengungsian. Kebutuhan pokok masih sangat bergantung pada bantuan, yang kerap terhambat akibat akses jalan terputus dan distribusi logistik yang hanya bisa dilakukan melalui udara.
Di tengah keterbatasan itu, Ibu Sri Murni dan keluarga lainnya memilih bekerja sebagai buruh upah harian. “Ngutip cabe di bukit, upahnya sekitar Rp. 50 ribu sehari. Itu untuk makan anak-anak. Alhamdulillah, bisa bertahan”, tuturnya.
Namun, kebutuhan paling mendesak saat ini adalah tempat tinggal. Ia dan keluarga lainnya berharap segera dipindahkan dari lokasi pengungsian, mengingat aktivitas sekolah akan segera berjalan normal.
“Kami kepingin cepat pindah. Rumah gubuk pun tak apa, yang penting aman. Kami sudah takut kembali ke kampung lama, sudah tidak layak lagi”, katanya.
Harapan senada disampaikan oleh Reje Kampung Bintang Pepara, Misran, SH. Ia menjelaskan bahwa saat ini terdapat 99 KK dengan total 360 jiwa yang mengungsi. Ketersediaan logistik pangan diperkirakan hanya cukup untuk empat hingga lima hari ke depan. Selain itu, kebutuhan air bersih menjadi persoalan paling mendesak.
“Listrik belum berfungsi, kami masih mengandalkan genset bantuan pemerintah. Ekonomi masyarakat juga berat, rata-rata hanya dapat sekitar Rp. 50 ribu per hari dari pekerjaan serabutan”, jelasnya.
Menjelang bulan Ramadan, masyarakat berharap hunian sementara dapat segera dibangun. Masyarakat bahkan telah sepakat untuk direlokasi ke tempat yang lebih aman demi keselamatan jangka panjang.
Menindaklanjuti kondisi tersebut, Bupati Aceh Tengah bersama tim turun langsung mengecek lokasi calon hunian sementara di Kampung Jalan Tengah, Lapangan Sepak Bola, Kecamatan Ketol. Pemerintah memastikan proses percepatan pembangunan hunian sementara terus dikawal agar warga tidak terlalu lama hidup di pengungsian.
Kisah warga Bintang Pepara menjadi potret nyata ketangguhan para pengungsi terluka oleh bencana, namun tidak menyerah, terbatas oleh keadaan, namun tetap berjuang, berharap pada bantuan, namun tidak kehilangan harga diri untuk bekerja.






