Takengon — Suasana haru menyelimuti acara pelepasan siswa kelas IX SMP Negeri 37 Takengon yang digelar pada Selasa, 19 Mei 2026. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, prosesi perpisahan kali ini mengangkat tema “Geh Bejule Ulak Bemunge”, sebuah istilah dalam adat Gayo yang bermakna “pulang dijemput”, simbol penghormatan, kasih sayang, dan ikatan kekeluargaan dalam budaya masyarakat Gayo.
Kegiatan yang berlangsung sederhana namun sarat makna tersebut dihadiri para wali murid, dewan guru, serta masyarakat sekitar. Sebanyak 21 siswa yang telah menyelesaikan pendidikan tahun ajaran 2025/2026 dilepas secara adat, menghadirkan nuansa budaya yang kental sekaligus menjadi media edukasi bagi generasi muda untuk tetap menjaga identitas dan warisan leluhur Gayo.
Prosesi pelepasan berlangsung penuh emosional, terutama saat para siswa melakukan “Semah Ku Ama Ine” atau sungkem kepada orang tua dan guru sebagai bentuk penghormatan dan ungkapan terima kasih atas kasih sayang serta perjuangan yang telah diberikan selama ini.
Kepala sekolah Mulyadi menyampaikan, momen pelepasan tahun ini menjadi sejarah tersendiri bagi sekolah. Selama 16 tahun berdiri, baru kali ini SMP Negeri 37 Takengon menggelar pelepasan siswa dengan balutan adat Gayo.
“Tema ‘Geh Bejule Ulak Bemunge’ kami pilih karena mengandung nilai budaya dan kekeluargaan yang sangat dalam. Kami sangat terharu melihat prosesi pelepasan siswa kelas IX ini, apalagi dibarengi tradisi semah ku ama ine. Banyak tamu yang hadir meneteskan air mata, terlebih di antara siswa yang dilepas terdapat anak-anak yatim,” ujar Mulyadi.
Ia menambahkan, sekolah tidak hanya berperan sebagai tempat menimba ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter dan pelestarian budaya daerah. Menurutnya, penguatan nilai adat dan penghormatan kepada orang tua penting ditanamkan sejak dini di tengah perkembangan zaman yang semakin modern.
“Harapan kami, anak-anak yang melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi dapat menjaga nama baik almamater SMP Negeri 37 Takengon. Semoga ilmu yang diperoleh selama di sekolah dapat bermanfaat bagi masa depan mereka,” tambahnya.
Acara perpisahan tersebut menjadi bukti bahwa pendidikan dan budaya dapat berjalan beriringan. Melalui pengenalan adat istiadat lokal, sekolah turut membangun kesadaran generasi muda agar tidak melupakan akar budaya sendiri, sekaligus menanamkan nilai sopan santun, rasa hormat kepada orang tua, dan kepedulian sosial dalam kehidupan sehari-hari.**






