Aceh Tenggara – Bukan sekadar seremoni keagamaan. Ini adalah pesan kuat bahwa rumah sakit milik rakyat Aceh Tenggara bukan hanya tempat berobat secara medis, tetapi juga ruang penguatan spiritual dan kebersamaan umat.
Di bawah kepemimpinan dr. Mhd Al Fazri, semangat pelayanan tidak berhenti pada tindakan operasi dan pengobatan klinis. Ada sentuhan nilai-nilai keagamaan yang dihidupkan.
Ada suasana religius yang dibangun. Ini menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan yang utuh adalah pelayanan yang menyentuh fisik sekaligus menenangkan batin.
Bagi masyarakat Aceh Tenggara, kegiatan seperti ini adalah angin segar. Rumah sakit daerah yang dulu mungkin hanya dipandang sebagai tempat orang sakit,
kini menjadi pusat harapan, pusat doa, dan pusat kebersamaan. Dzikir Akbar ini menegaskan bahwa RSUD hadir bukan hanya sebagai institusi, tetapi sebagai bagian dari denyut nadi masyarakat.
Alhamdulillah, di hari ke-9 Ramadhan, Jum’at 27 Februari 2026, kita masih diberi kesempatan untuk berpuasa, berdzikir, dan memohon ampunan. Ini bukan nikmat kecil. Ini adalah karunia besar yang wajib disyukuri.
Ya Allah…
Jadikan Ramadhan ini sebagai momentum kebangkitan moral. masyarakat Aceh Tenggara.
Bukakan pintu-pintu rezeki bagi para pedagang kecil, petani, nelayan, ASN, tenaga kesehatan, dan seluruh rakyat.
Sembuhkan para pasien yang sedang dirawat.
Kuatkan para dokter dan perawat dalam mengemban amanah kemanusiaan.
Dzikir Akbar ini harus menjadi energi kolektif.
Energi untuk memperbaiki diri. Energi untuk memperkuat solidaritas sosial. Energi untuk membangun Aceh Tenggara yang lebih sehat, lebih religius, dan lebih bermartabat.
Rumah sakit yang kuat adalah simbol daerah yang peduli. Dan ketika pelayanan medis berjalan seiring dengan nilai keimanan, di situlah lahir harapan besar bagi masyarakat.
Semoga setiap lantunan dzikir menjadi saksi.
Semoga setiap doa menjadi cahaya.
Semoga Ramadhan tahun ini benar-benar menjadi bulan keberkahan dan ladang pahala bagi kita semua.ujar sang dr mhd Al Fazri
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamiin







