Bener Meriah – Yayasan Leuser Internasional (YLI) mensosialisasikan hasil baseline survey atau studi awal terkait kesuburan dan keanekaragaman hayati tanah pada perkebunan kopi Arabika Gayo di dataran tinggi Gayo, Provinsi Aceh. Kegiatan ini bertujuan memaparkan kondisi awal kesehatan tanah sekaligus menjadi dasar pengembangan praktik perkebunan kopi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Sosialisasi hasil studi tersebut dilaksanakan di kantor YLI, Kecamatan Wih Pesam, Kabupaten Bener Meriah pada Kamis (12/3/2026). Kegiatan ini dihadiri oleh sejumlah instansi pemerintah dari Aceh Tengah dan Bener Meriah, lembaga penelitian, akademisi, pelaku usaha kopi, serta perwakilan koperasi dan organisasi terkait pengembangan kopi Gayo.
Studi ini dilaksanakan oleh YLI bekerja sama dengan tenaga ahli dari Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala yang dipimpin oleh Muyassir, dengan dukungan dari Livelihoods Funds.
Penelitian tersebut menganalisis berbagai indikator kesuburan tanah dari aspek biologis, fisik, hingga kimia.
Penelitian dilakukan pada pertengahan tahun 2025 di enam desa di Aceh Tengah dan sembilan desa di Bener Meriah dengan total 60 titik sampel tanah atau plot kebun kopi. Rinciannya, 30 plot berada di Aceh Tengah dan 30 plot di Bener Meriah, dengan menggunakan metode purposive sampling untuk menentukan lokasi pengambilan sampel.
Dalam pemaparan hasil studi, Muyassir menjelaskan bahwa tingkat kesuburan tanah pada kebun kopi di Bener Meriah masih berada pada kategori sedang. Namun, kondisi berbeda ditemukan di Aceh Tengah yang menunjukkan tingkat kesuburan tanah relatif rendah.
Menurutnya, terdapat sejumlah faktor yang mempengaruhi kondisi tersebut. Di antaranya adalah belum optimalnya keberadaan pohon penaung di kebun kopi, jarak tanam penaung yang tidak sesuai, serta penggunaan herbisida dan pupuk kimia yang berlebihan oleh sebagian petani.
“Selain itu, masih kurangnya pemahaman petani terkait praktik budidaya kopi yang baik, khususnya yang berbasis organik dan ramah lingkungan, juga menjadi salah satu penyebab menurunnya kualitas kesuburan tanah,” jelasnya.
Perwakilan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Aceh Tengah, Wahyuddin, menyambut baik hasil penelitian tersebut. Ia menilai studi ini dapat menjadi referensi penting bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan pengembangan kopi Gayo yang lebih berkelanjutan.
“Hasil studi ini sangat bermanfaat sebagai dasar bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan dan program pengembangan kopi berkelanjutan di Aceh Tengah dan Bener Meriah, termasuk rekomendasi untuk memperkuat peran pemerintah daerah dalam memperbaiki praktik budidaya kopi sampai ke tingkat petani,” ujarnya.
Sementara itu, akademisi dari Universitas Gajah Putih, Win Temas Miko, menilai penelitian ini sangat menarik karena dapat menjadi rujukan untuk memahami hubungan antara kerapatan pohon penaung dengan kesuburan tanah. Selain itu, penelitian juga membuka peluang pemanfaatan sampah rumah tangga sebagai bahan pupuk organik bagi petani kopi.
Ketua Pengurus Yayasan Leuser Internasional, Said Fauzan Baabud, mengatakan bahwa studi ini diharapkan menjadi langkah penting dalam memperbaiki praktik budidaya kopi di dataran tinggi Gayo.
Ia menegaskan bahwa pengembangan kopi tidak hanya harus berorientasi pada peningkatan produktivitas, tetapi juga harus memperhatikan kesehatan tanah dan keberlanjutan ekosistem perkebunan kopi Arabika Gayo.
“Melalui hasil studi ini, kami berharap berbagai pihak dapat bersama-sama mendorong praktik budidaya kopi yang lebih ramah lingkungan sehingga keberlanjutan kopi Arabika Gayo dapat terus terjaga,” katanya.
Kegiatan sosialisasi tersebut diakhiri dengan acara buka puasa bersama yang diharapkan dapat mempererat silaturahmi dan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, serta organisasi masyarakat dalam mendukung keberlanjutan sektor kopi Gayo.







