Aceh Tenggara — Gelombang kekecewaan masyarakat terhadap kondisi Aceh Tenggara terus menguat. Sebanyak 11 janji politik yang dahulu dielu-elukan sebagai
“program perbaikan” kini dinilai hanya menjadi alat meraih kekuasaan semata. Ketua Kaliber Aceh, Zk Agara, secara terbuka mengecam keras kegagalan realisasi janji-janji yang pernah disampaikan kepada rakyat.
Menurutnya, masyarakat kini mulai sadar bahwa berbagai janji yang dulu disampaikan dengan penuh semangat ternyata belum memberi perubahan nyata bagi kehidupan rakyat kecil.
“Rakyat dijanjikan kesejahteraan, tetapi yang terlihat hari ini justru kesulitan di mana-mana.
Petani menjerit, pelayanan publik masih carut-marut, ekonomi masyarakat melemah, sementara janji hanya terus diputar dalam pidato,” tegas Zk Agara.
Adapun 11 janji yang kini dipertanyakan publik meliputi bantuan pupuk, bantuan lansia, bantuan ibu hamil dan balita, honor imam dan guru ngaji, beasiswa pendidikan, pelayanan kesehatan dengan USG di puskesmas, revitalisasi kantor kecamatan, penghapusan pungli administrasi, pemberantasan narkoba dan judi online, hingga bantuan pembinaan keagamaan.
Namun menurut Kaliber Aceh, sebagian besar masyarakat mengaku belum merasakan dampak besar dari program-program tersebut.
“Kalau semua janji itu benar berjalan, tentu rakyat sudah merasakan perubahan. Tapi hari ini masyarakat justru bertanya-tanya: di mana uang rakyat digunakan? Mana program yang dulu dijanjikan? Mana bukti nyata yang bisa dilihat rakyat kecil?” ujarnya.
Ia juga menilai slogan “perbaikan” yang selama ini digaungkan mulai kehilangan makna di tengah kondisi daerah yang dinilai semakin memprihatinkan.
“Perbaikan apa yang dimaksud? Infrastruktur masih banyak dikeluhkan, pelayanan publik belum maksimal, ekonomi masyarakat melemah, narkoba dan judi online masih menghantui generasi muda. Jangan sampai slogan perbaikan hanya menjadi topeng politik untuk menutupi kegagalan,” kata Zk Agara dengan nada keras.
Kaliber Aceh memperingatkan bahwa rakyat Aceh Tenggara bukan masyarakat yang bisa terus dibuai dengan narasi dan pencitraan.
“Jangan anggap rakyat lupa. Hari ini masyarakat melihat, menilai, dan mencatat semua janji yang pernah diucapkan. Kekuasaan datang dari rakyat, dan rakyat juga yang akan memberikan penilaian akhir,” pungkasnya.






