Aceh Tenggara — Kesabaran rakyat Aceh Tenggara kian menipis. Jaringan Telkomsel yang sering putus, tenggelam, dan mati tanpa sebab telah berubah menjadi musuh diam-diam pelayanan publik, terutama di sektor kesehatan.
Setiap kali jaringan Telkomsel bermasalah, rakyat yang datang berobat jadi korban. Pendaftaran terhenti, data pasien tak bisa masuk, BPJS terganggu, dan pelayanan RSUD Sahudin Kutacane lumpuh. Namun yang jadi sasaran amarah rakyat justru dokter, perawat, dan manajemen rumah sakit, bukan Telkomsel sebagai penyebab utama.
Ketua KALIBER Aceh menegaskan, kerusakan jaringan ini adalah bentuk pembiaran terhadap penderitaan rakyat. Rumah sakit dipaksa bekerja dengan sistem online, tapi jaringan disediakan setengah-setengah. Akibatnya, rakyat dipermainkan, tenaga medis ditekan, dan pelayanan kesehatan dipermalukan di depan publik.
“Jangan salahkan RSUD Sahudin kalau pelayanan lambat. Salahkan Telkomsel yang tidak becus menyediakan jaringan. Jangan biarkan rakyat memaki rumah sakit, sementara pelaku kerusakan menikmati keuntungan,” tegas Ketua KALIBER Aceh.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, amarah rakyat Aceh Tenggara akan meledak. Ketika orang sakit tak terlayani karena jaringan mati, itu bukan sekadar gangguan teknis — itu penghinaan terhadap hak hidup rakyat kecil.
KALIBER Aceh mengajak masyarakat membuka mata:
Siapa yang sebenarnya bertanggung jawab atas macetnya pelayanan?
Siapa yang menikmati pulsa dan paket data rakyat, tapi gagal memberi layanan layak?
Mengapa wilayah Aceh Tenggara seperti di anak tirikan.
Ketua KALIBER Aceh mengingatkan, kesabaran rakyat ada batasnya. Jika Telkomsel terus abai, maka kecaman publik, tekanan massa, dan tuntutan terbuka tak bisa dihindari.
“Ini bukan soal sinyal. Ini soal harga diri rakyat Aceh Tenggara,” tutupnya.








