Mutasi Mati, Kekuasaan Hidup: Di Era Bupati Salim Fahri, Status Quo Diduga Jadi Mesin Kekuasaan.

- Editor

Rabu, 1 April 2026 - 04:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kutacane – Jika mutasi adalah tanda hidupnya sebuah birokrasi, maka di bawah kepemimpinan Salim Fahri, yang terlihat justru sebaliknya:
mutasi mati, tetapi kekuasaan di lingkaran tertentu justru semakin hidup dan menguat.

Ini bukan lagi soal keterlambatan.
Ini adalah pola yang mulai terbaca dan dirasakan publik secara nyata.
Mutasi yang terus diwacanakan namun tak pernah direalisasikan telah berubah menjadi alat pengalih isu. Sementara di belakangnya, struktur lama tetap dipertahankan seolah-olah tidak boleh disentuh.

Publik kini mulai menyimpulkan sesuatu yang lebih serius:
status quo diduga bukan dipertahankan untuk stabilitas, tetapi untuk menjaga aliran kepentingan di dalam kekuasaan.

Pola Permainan yang Semakin Terbuka
Apa yang dulunya hanya bisik-bisik, kini mulai tampak terang:

Kursi Strategis Seperti “Dipagar”
Pejabat di posisi penting bertahan tanpa evaluasi terbuka.
Bukan karena tidak bisa diganti—tetapi diduga tidak boleh diganti.

Mutasi Ditahan, Loyalitas Dijaga
Mutasi tidak dilakukan bukan karena belum siap, tetapi karena berpotensi merusak keseimbangan “loyalitas”.
Artinya, jabatan menjadi alat menjaga kekuatan, bukan alat pelayanan.

Lingkaran Kekuasaan Semakin Sempit
Keputusan penting diduga hanya berputar pada kelompok tertentu.
Birokrasi tidak lagi terbuka, tetapi menjadi ruang eksklusif yang tertutup dari kontrol publik.

Kritik Dibalas Tekanan
Alih-alih dijadikan bahan evaluasi, kritik justru dihadapi dengan resistensi.
Ini adalah ciri klasik dari kekuasaan yang mulai takut kehilangan kendali.
Dari Status Quo ke Dugaan “Kerajaan Kekuasaan”
Ketika pola ini terus berlangsung, maka publik tidak lagi melihat ini sebagai kebetulan.
Ini mulai mengarah pada dugaan terbentuknya:

“Kerajaan kekuasaan kecil” yang rapi, tertutup, dan saling melindungi.

Dalam sistem seperti ini:
Jabatan bukan lagi amanah, tetapi aset yang dijaga
Kebijakan bukan lagi solusi, tetapi alat mempertahankan posisi
Dan birokrasi bukan lagi pelayan rakyat, tetapi perpanjangan tangan kekuasaan
Lebih mengkhawatirkan,

Baca Juga:  Bupati Haili Yoga Ajak Siswa MTsN 3 dan MIN 12 Aceh Tengah Raih Sukses dengan Disiplin dan Doa

Kondisi ini membuka ruang besar terhadap dugaan:
kolusi yang mengendap dan berpotensi mengarah pada praktik korupsi sistemik.

Realitas yang Tidak Bisa Lagi Ditutup
Di saat masyarakat menghadapi tekanan ekonomi, pemerintah justru memperlihatkan prioritas yang kontras—
kenyamanan pejabat lebih dijaga dibanding penderitaan rakyat.

Ini bukan persepsi.
Ini adalah realitas yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Dan ketika realitas ini terus berulang tanpa perbaikan, maka kepercayaan publik tidak hanya menurun—
tetapi runtuh secara perlahan.

Salim Fahri di Titik Penentuan
Kini semua kembali kepada Salim Fahri.
Tidak ada lagi ruang untuk alasan.
Tidak ada lagi ruang untuk penundaan.
Karena publik sudah membaca arah permainan ini.ucap Zk agara

Jika mutasi terus tidak dilakukan, maka publik akan menilai bahwa:
Status quo memang sengaja dipertahankan
Lingkaran kekuasaan memang sedang diamankan
Dan sistem ini memang tidak ingin berubah
Peringatan Terbuka
Ini bukan sekadar kritik.
Ini adalah peringatan terbuka dari suara publik.

Ketua KALIBER Aceh menyakini.
Jika pola ini tidak segera dihentikan, maka?
Tekanan publik akan semakin besar
Sorotan terhadap birokrasi akan semakin tajam
Dan pintu masuk bagi Aparat Penegak Hukum akan semakin terbuka.

Membongkar atau Tenggelam
Sejarah tidak menunggu.
Publik tidak akan diam selamanya.
Salim Fahri kini dihadapkan pada dua pilihan:
Membongkar sistem yang diduga bermasalah,
atau ikut tenggelam bersama sistem itu sendiri.ujar zk Agara

Karena pada akhirnya, yang akan diingat bukan alasan—
melainkan keberanian, atau kegagalan untuk bertindak.
Zoel Kenedi ketua KALIBER ACEH

Berita Terkait

Bupati Haili Yoga Kembali Jalankan Program Rabu Berkah, Santuni Warga Sakit dan Fakir Miskin
‎Babinsa Bantu Warga Panen Cabai di Desa Atu Singkih
Sosialisasi Juknis Pelaksanaan Bantuan Perbaikan Rumah Masyarakat Rusak Ringan Dan Sedang
Warga Korban Banjir Blang Seunong Mulai Tempati Huntara, Harapan Baru Pascabencana
DIDUGA reses fiktif dan mark-up anggaran KALIBER Aceh desak Kejari periksa 30 anggota DPRK Aceh tenggara
Bupati Haili Yoga Beri Perhatian Khusus Bayi Bibir Sumbing, Siapkan Operasi Gratis
‎Babinsa Koramil 06/Jagong Laksanakan Karya Bakti Bersama Warga di Desa Paya Dedep
Pemerintah Terlena Kemewahan, Rakyat Ditinggalkan: Janji Politik Salim Fahri Dinilai Hanya demi syahwat
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 1 April 2026 - 05:53 WIB

Bupati Haili Yoga Kembali Jalankan Program Rabu Berkah, Santuni Warga Sakit dan Fakir Miskin

Rabu, 1 April 2026 - 04:44 WIB

‎Babinsa Bantu Warga Panen Cabai di Desa Atu Singkih

Selasa, 31 Maret 2026 - 18:14 WIB

Sosialisasi Juknis Pelaksanaan Bantuan Perbaikan Rumah Masyarakat Rusak Ringan Dan Sedang

Selasa, 31 Maret 2026 - 05:18 WIB

‎Babinsa Koramil 06/Jagong Pererat Kemanunggalan Lewat Komsos di Desa Gegarang

Selasa, 31 Maret 2026 - 03:11 WIB

Bupati Haili Yoga Beri Perhatian Khusus Bayi Bibir Sumbing, Siapkan Operasi Gratis

Senin, 30 Maret 2026 - 07:04 WIB

‎Babinsa Koramil 06/Jagong Laksanakan Karya Bakti Bersama Warga di Desa Paya Dedep

Senin, 30 Maret 2026 - 06:22 WIB

Rumah Terbakar Akibat Arus Pendek Di Kebayakan, Wabup Muchsin Langsung Hubungi PLN Sekaligus Menyerahkan Bantuan Masa Panik

Senin, 30 Maret 2026 - 04:49 WIB

Hari Pertama Masuk Sekolah, Kapolres Aceh Tengah Ajak Siswa Gemar Baca Alquran dan Hindari Bullying

Berita Terbaru

Aceh Tengah

‎Babinsa Bantu Warga Panen Cabai di Desa Atu Singkih

Rabu, 1 Apr 2026 - 04:44 WIB