ACEH — Olahraga berkuda di Aceh memasuki babak baru. Vira Wiara dipercaya memimpin Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) Equestrian Aceh dengan harapan mampu membawa pembinaan olahraga equestrian ke arah yang lebih profesional, terukur, dan berorientasi pada prestasi.
Kepercayaan tersebut dinilai menjadi momentum penting bagi pengembangan olahraga equestrian di Aceh. Kepemimpinan Vira Wiara diharapkan dapat memperkuat pembinaan atlet, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta membuka ruang lebih luas bagi generasi muda untuk menekuni olahraga berkuda.
Ketua Umum Pordasi Equestrian, D. Larasati, SH, mengatakan kepemimpinan Vira Wiara diharapkan menjadi bagian dari upaya memperkuat pembinaan dan pengembangan olahraga equestrian di Aceh.
“Kami berharap amanah ini dapat dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan membawa kemajuan bagi olahraga equestrian di Aceh. Yang terpenting adalah bagaimana pembinaan atlet dapat berjalan dengan baik dan prestasi dapat terus ditingkatkan,” kata D. Larasati, Rabu (2/9/2026).
Menurut Larasati, kepemimpinan di tingkat daerah memiliki peran strategis dalam membangun ekosistem olahraga berkuda yang berkelanjutan. Hal itu mencakup pembinaan atlet, penguatan klub, peningkatan kualitas pelatih dan juri, serta penyelenggaraan kompetisi secara berkesinambungan.
Ia menyebut sejumlah program yang perlu menjadi perhatian kepengurusan Pordasi Equestrian Aceh, di antaranya pembinaan atlet usia muda, peningkatan kapasitas pelatih dan juri, penguatan klub-klub berkuda, serta peningkatan frekuensi dan kualitas kompetisi.
“Vira Wiara hadir dengan semangat membangun, bukan sekadar memimpin. Amanah ini menjadi kesempatan untuk menyatukan para pelaku olahraga berkuda Aceh dalam satu visi besar untuk menjadikan equestrian Aceh semakin kompetitif dan mampu berbicara di tingkat nasional,” ujarnya.
Potensi Besar untuk Sport Tourism
Larasati juga menilai Aceh memiliki potensi besar dalam pengembangan olahraga berkuda sekaligus sport tourism. Selain komunitas berkuda yang terus berkembang, sejumlah wilayah di Aceh memiliki karakter alam yang mendukung pengembangan olahraga tersebut.
“Potensi olahraga berkuda di Aceh sangat besar. Selain memiliki komunitas yang terus berkembang, Aceh juga memiliki daerah-daerah dengan karakter alam yang mendukung pengembangan olahraga berkuda sekaligus sport tourism,” katanya.
Karena itu, Pordasi Equestrian Aceh didorong membangun kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, KONI, komunitas berkuda, klub, pelaku usaha, hingga pemangku kepentingan lainnya.
Kolaborasi tersebut dinilai penting agar pengembangan olahraga equestrian tidak berjalan sendiri, tetapi menjadi bagian dari ekosistem olahraga prestasi dan pariwisata yang saling mendukung.
“Targetnya jelas, pembinaan harus berjalan, kompetisi harus hidup, atlet harus berkembang, dan prestasi harus menjadi tujuan utama,” tegas Larasati.
Ia menyebut Kejuaraan Nasional (Kejurnas) 2026 dan persiapan menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 2028 menjadi momentum penting bagi Aceh untuk mempersiapkan atlet dan organisasi secara lebih serius.
Dengan kepemimpinan baru Vira Wiara, Pordasi Equestrian Aceh diharapkan mampu melahirkan lebih banyak atlet berkualitas serta meningkatkan prestasi olahraga berkuda Aceh di tingkat nasional.
Kepemimpinan tersebut juga diharapkan mampu menjadikan olahraga equestrian bukan sekadar aktivitas olahraga dan hobi, tetapi berkembang menjadi ekosistem olahraga prestasi yang profesional dan berkelanjutan.






