Abang Jadi Bupati, Adik Bak Gubernur – Dinasti Kekuasaan dan Arogansi di Aceh Tenggara

- Editor

Selasa, 1 Juli 2025 - 04:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Aceh Tenggara — Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Aceh Tenggara telah usai. Rakyat telah menentukan pilihannya, dan kini daerah tersebut telah memiliki Bupati dan Wakil Bupati terpilih yang resmi menjabat. Dalam kampanye politiknya, pasangan ini mengusung 11 program unggulan yang dijanjikan mampu membawa perubahan dan kesejahteraan bagi masyarakat. Namun sayang, hingga saat ini, belum satu pun dari program tersebut yang benar-benar terwujud secara nyata.

Secara konstitusi, tugas seorang Bupati adalah memimpin dan menyelenggarakan roda pemerintahan daerah, menjalankan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah, serta menjaga ketertiban dan ketenteraman masyarakat. Tugas itu tidaklah ringan. Seorang Bupati harus menjadi pemimpin yang bijak, melayani, dan mengayomi seluruh lapisan rakyatnya.

Namun di Aceh Tenggara, situasi politik justru memperlihatkan fenomena lain. Bupati yang terpilih disebut-sebut banyak pihak telah menyeret adik kandungnya ke lingkaran kekuasaan — bukan secara struktural, melainkan secara informal, tetapi dominan. Banyak yang menyebut, kendati tidak memiliki jabatan resmi, sang adik kini berperilaku dan berpengaruh bak seorang “Gubernur” di daerah.

Sejumlah sumber menyampaikan bahwa gaya kepemimpinan Bupati dan perilaku adiknya telah membuat banyak bawahan maupun tokoh masyarakat merasa kecewa. Salah satu pernyataan kasar Bupati yang sempat mencuat di tengah publik adalah ucapan: “Pekak Kadang Ko” (bodoh mungkin kau). Bahasa yang tak mencerminkan etika seorang pemimpin daerah.

Tak kalah kontroversial, sang adik yang tidak memegang jabatan formal pemerintahan juga sering diduga mencampuri urusan pemerintahan. Bahkan menurut beberapa pihak, gaya komunikasinya terhadap bawahan dan rekan kerja pun kasar, sinis, dan tak segan-segan merendahkan orang lain. Tak sedikit ASN dan tokoh masyarakat yang memilih menjaga jarak karena tidak tahan dengan perilaku arogansi yang mereka tunjukkan.

Baca Juga:  KALIBER Aceh Tunggu Kejaksaan Agung RI cq Jampidsus_ Turun Langsung ke Aceh Tenggara.ketua DPRK di periksa

“Mereka memimpin dengan mulut yang kasar. Si adik bahkan lebih sering mencela dan merendahkan. Orang sudah mulai enggan dekat, karena kalau dekat dibuat seperti babu,” ungkap seorang sumber yang enggan disebutkan namanya.

Fenomena keterlibatan keluarga dalam pemerintahan memang bukan hal baru di Indonesia. Namun jika kehadiran anggota keluarga justru menjadi sumber keresahan, tentu menjadi alarm bagi demokrasi lokal. Kekuasaan yang terpusat pada satu keluarga, apalagi disalahgunakan, hanya akan menjauhkan rakyat dari keadilan dan pelayanan publik yang layak.

Kitab suci Al-Qur’an telah menegaskan bahwa pemimpin adalah pelayan umat. Pemimpin sejati adalah mereka yang bersikap santun, menghargai rakyatnya, dan tidak menjadikan jabatan sebagai alat menebar kesombongan. Pemimpin bukan preman. Pemimpin bukan penguasa yang menggunakan mulut untuk mengintimidasi.

Aceh Tenggara bukan milik segelintir orang. Ia milik seluruh rakyat. Janji-janji yang dulu diumbar saat kampanye bukanlah sekadar slogan, tetapi hutang politik yang harus dibayar dengan kinerja nyata.

Sudah saatnya Bupati dan seluruh jajaran di Aceh Tenggara kembali membumi. Rakyat tidak butuh pemimpin yang arogan, tapi butuh keteladanan, kerja nyata, dan tutur kata yang menyejukkan. Jabatan adalah amanah, bukan warisan. Dan jika amanah itu diselewengkan, maka publik berhak menagihnya, bahkan menjatuhkannya lewat jalur konstitusi.

Oleh: Zoel Kenedi, Ketua LSM Kaliber Aceh

 

Berita Terkait

GBNN Aceh Tenggara Apresiasi Program P3-TGAI, Jaringan Irigasi di Ratusan Titik Kini Meningkat AGara
KALIBER Aceh: Jangan Jadikan Bantuan Bencana sebagai Misteri, Beranikah inspektorat Audit Total Dinas Sosial Aceh Tenggara
Di Tengah Keterbatasan, RSUD H. Sahudin Kutacane Mulai Bangkit di Bawah Kepemimpinan dr. MHD Al Fazri, Sp.B
Diduga Ada Kutipan Rp7 Juta hingga Rp15 Juta untuk Pembuatan LKPJ Desa, KALIBER Aceh pertanyakan kinerja Inspektorat
Masuk Tahun kedua memimpin, 11 Janji Politik Bupati Aceh Tenggara.Kaliber Aceh beri gelar bupati seremonial
‎Babinsa dan Bhabinkamtibmas Perkuat Sinergi Lewat Komsos Bersama Warga di Kute Panang
PERBAIKAN HANYA MIMPI, rakyat menjerit di tengah KRISIS, BUPATI malah SIBUK dengan seremoni
Terlalu Banyak Mudarat, Aktivis dan Mahasiswa Nilai Salim Fakhry Gagal Menjawab Krisis Rakyat, Bupati nilai terlalu banyak janji Palsu
Berita ini 292 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 06:23 WIB

Pemkab Aceh Tengah Miliki Excavator Mini, Untuk Mendukung Percepatan Penanganan Bencana

Rabu, 9 September 2026 - 05:31 WIB

Polisi Aceh Tengah dan Warga Kompak Gotong Royong, Jembatan Pilar Jaya Dikebut Agar Segera Terhubung

Rabu, 9 September 2026 - 05:29 WIB

Hujan Deras Amblaskan Jembatan Bintang-Serule, Polisi Bergerak Cek Lokasi dan Koordinasikan Perbaikan

Rabu, 9 September 2026 - 05:27 WIB

Pendamping Desa Apresiasi Inovasi Keramat Mupakat Perkuat Ketahanan Iklim dan Pangan

Rabu, 9 September 2026 - 05:19 WIB

Kodim 0106 Tanam 1.000 Pohon, Hijaukan Bintang Sambut HUT ke-81 TNI

Rabu, 9 September 2026 - 04:12 WIB

Bupati Haili Yoga Ikut Sensus Ekonomi, Tekankan Pentingnya Data Akurat untuk Kebijakan

Selasa, 8 September 2026 - 12:35 WIB

Bupati Aceh Tengah Raih Award SMSI atas Gerakan Kebersihan

Selasa, 8 September 2026 - 07:47 WIB

‎ ‎Babinsa Koramil 06/Jagong Hadiri Musyawarah Pembahasan dan Penetapan RKPK 2027 di Desa Paya Dedep

Berita Terbaru